Komunitas Kuburan dan Dewi Pegunungan Alpen sebagai Penjaga Alam

Penulis: Abi Muhammad Latif

Entah apa yang melatari banyaknya tokoh pembabat gumuk memilih dimakamkan di puncak gumuk, tetapi fenomena komunitas kuburan di gumuk sangat berpengaruh pada keberadaan gumuk. Sebelum membicarakan penjagaan gumuk, saya ingin menjabarkan sedikit kemungkinan-kemungkinan referensi tentang yang melatari makam di puncak gumuk.

Referensi pertama dari segi spiritual, yakni ruang yang tinggi adalah upaya dekat dengan Sang Pencipta. Hal ini cukup berkaitan dengan kisah-kisah perjalanan spiritual nabi maupun para dewa, yang melulu dinarasikan adalah di atas, ke atas, singgasana, langit ke 7. Patung-patung sebagai medium berdoa juga diposisikan pada ruang yang lebih tinggi dari yang berdoa. Mungkin dengan dimakamkannya para pembabat di puncak gumuk, mereka akan lebih dekat dengan Yang Di Atas.

Referensi kedua adalah tentang politik identitas dan kepemilikan. Dengan gelar tokoh masyarakat yang dilekatkan dengan pembabat gumuk, membuat ruang peristirahatan terakhir mereka mesti dispesialkan. Dari segi materialitas, hal ini memudahkan orang-orang yang merindukannya, mengidolakannya, dan ingin mendoakannya di area makam untuk dapat mengetahui dan mendatangi kuburan para pembabat.

Sebab mereka ditokohkan, bahkan secara spiritual, sehingga timbul ritus-ritus baru yang dilakukan masyarakat atas komunitas kuburan pembabat. Hal ini semakin menguatkan politik identitas pembabat sebagai entitas dominan yang melahirkan mitos-mitos, energi, dan ruang-ruang imajiner di luar diri mereka.

Aktor-aktor utama di dalam sejarah peradaban seringkali menandai area kekuasaan ataupun jejak mereka. Jika ditarik ke konsep kekuasaan, praktik menandai secara material adalah bentuk pencapaian diri atas apa yang mereka tempuh atau upayakan. Komunitas kuburan dengan segera menandai apa yang telah dicapai oleh pembabat gumuk, dan yang kemudian menjadi milik mereka. Hal ini baik juga dalam hal perebutan kekuasaan (dalam hal ini lahan) setelah mereka meninggal. Sehingga lahan gumuk yang telah dibagi-bagi kepada anak cucu pembabat, sulit untuk diperjualbelikan bahkan dikeruk. Keberatan akan bermunculan atas dasar etika dan ketakutan akan petaka. Jika gumuk dikeruk, maka secara otomatis tanda material sejarah yang “otentik” akan ikut menghilang.

Komunitas kuburan di area gumuk sebagai entitas dominan, cukup kuat dan masih relevan sebagai salah satu benteng terakhir menjaga keberadaan gumuk dari pertambangan. Sekalipun beberapa gumuk yang memiliki kompleks kuburan juga tetap dikeruk, tetapi ritus dan ziarah makam pembabat gumuk masih berjalan. Sebagai kerja kolaborasi, perlu ada regulasi kebudayaan yang juga turut andil dalam menjaga komunitas ini. Sehingga gumuk akan tetap ada, dan kompleks – antara yang material dan imajiner.

Dewi Raetia, Pelindung Padang Rumput Alpen

Sontga Margriata ei stada siat stads ad alp
Mai quendisch dis meins
In di eis ella ida dal stavel giu
Dada giu sin ina nauscha platta
Ch’igl ei scurclau siu bi sein alv
Paster petschen ha quei ad aguri cattau
«Quei sto nies signun ir a saver
Tgeinina zezna purschala nus havein»

Bait di atas adalah bait pertama lagu Canzun de la Songta Margriata, lagu rakyat Swiss kuno yang direkam oleh Caminada. Lagu tersebut menceritakan tentang seorang Wanita Bernama Margriata yang ditemukan di Alm Pegunungan Alpen – padang rumput musim panas tempat memerah sapi, kambing, domba, serta produksi keju. Menurut aturan kuno, Alm adalah terlarang bagi wanita.

Margriata bekerja di pegunungan Alpen selama 7 musim panas, dan untuk bekerja di sana, dia harus menutupi dadanya. Pada tahun ke-7, Paster Petschen (anak laki-laki gembala) menyadari Margriata adalah wanita. Margriata menawarkan 3 ekor domba yang dapat dicukur 3 kali setahun kepada Paster Petschen, agar ia tidak melaporkan apa yang ia lihat kepada Senn, Kepala Gembala. Paster Petschen tidak menghiraukan tawaran Margriata dan memberitahu Kepala Gembala. Senn memiliki otoritas mutlak atas manusia dan hewan, maka Margriata harus meninggalkan Alm. Dia meninggalkan mata air yang mengering, padang rumput yang layu, dan sapi-sapi yang menangis.

Santa Margaret (Margriata), sebuah nama yang mungkin berasal dari Raetia, Reita, atau Risa. Namanya memiliki kemiripan fonetik dengan Raetia. Seperti Dewi Raetia di zaman kuno, Songta Margriata adalah pelindung tak terlihat dari padang rumput pegunungan Alpen. Dia memiliki kuil utamanya di Este di lembah Sungai Po.

Melalui perubahan fonetik terutama di wilayah Swiss Tessin dan Grison, nama Dewi Raetia atau Reisa berubah menjadi Risa, Madrisa/Matreia, atau Bunda Risa. Banyak nama tempat di seluruh Pegunungan Alpen yang disusun dengan nama Reita, Risa atau formasi yang serupa.

Eduard Renner, dalam bukunya Golden Ring above Urion Raeto-Romanche folklore (1991), mengutip sebuah nyanyian atau pemberkatan Alpen kuno, yang harus dinyanyikan setiap malam oleh Senn demi perlindungan Alm, para gembala, dan ternak. Dengan menggunakan corong susu besar sebagai megafon, ia menyanyikan doa panjang di padang rumput, mengakhiri setiap bait dengan refrain:

Di sekeliling padang rumput ini ada cincin emas,

dan di sana duduk Maria dengan anak kecilnya yang tersayang…

References:

https://pagaian.org/articles/mountain-goddess-of-the-alps-danu-raetia-marisa-by-claire-french-ph-d/

https://de.wikipedia.org/wiki/Canzun_de_Sontga_Margriata

https://www.youtube.com/watch?v=VPRLdcXU5eg

https://genius.com/Corin-curschellas-sontga-margriata-lyrics

Kompleks makam di area gumuk daerah Sumbersari. Dokumentasi: Studio Klampisan.

Komunitas kuburan di atas gumuk Bujuk Mareh, Jenggawah. Dokumentasi: Studio Klampisan.

Makam Bujuk Mareh di puncak gumuk, Jenggawah. Dokumentasi: Studio Klampisan.

Makam pahlawan nasional di area bekas gumuk. Dokumentasi: Studio Klampisan.

Kapel di Tamsweg, Salzburg Lungau. Dokumentasi: Studio Klampisan.

Pemakaman St Peter di Salzburg. Dokumentasi: Studio Klampisan.

Pemakaman St Peter di Salzburg. Dokumentasi: Studio Klampisan.

Tukang Obat: Ritus Pengeramatan di Pasar

Penulis: Abi Muhammad Latif

Mungkin kah menemukan ritus pengeramatan di keramaian pasar? Bisa mungkin, bisa tidak. Di Jember, Banyuwangi, dan Jakarta era 2000 – 2010, kami masih menjumpai tukang jual obat (dan kitab) keliling dengan model menjual aksi spektakel mereka yang melibatkan sulap ataupun sihir. Struktur teks/kisah yang mereka lafalkan seringkali berhasil membuai publik dan membuat dagangannya laris.

Memang ada beberapa gaya jual obat yang mereka lakukan, baik yang menggunakan trik penceritaan, maupun yang melibatkan kekuatan metafisik. Tetapi yang paling kentara, dua-duanya memiliki gaya pengkisahan yang memikat dan mengikat, meletupkan harapan di antara atraksi tragedi/tragik-komedi, melibatkan hal metafisik sebagai medium pengkisahan ataupun modus kerja.

Yang saya lihat di awal tahun 2000an, tukang jual obat menciptakan pasar kaget di sebuah lapangan badminton terbuka, dekat dengan Pasar Deprok (baca: duduk), sebuah pasar tradisional di Cipinang Muara 3 Jakarta Timur. Jika pada kerja Tukang Obat seringkali mendekatkan penonton sedekat mungkin dengan dirinya, berbeda dengan yang ini. Waktu itu malam agak mendung, Tukang Obat menggelar lapaknya dengan terpal yang cukup besar. Penonton dibuat agak jauh darinya. Tak disangka, dia berhasil menguasai stage yang besar seorang diri dengan atraksi melawan roh yang menyerang dirinya, dia berguling-guling ke belakang lantas memuntahkan paku dan darah. Tak cepat kagum, saya berpikir peristiwa itu telah disiapkan.

Tetapi selang beberapa menit setelah Tukang Obat melakukan promosi, tetangga saya – yang secara persis saya kenal, mengajukan diri menjadi pasien. Ia bercerita menderita hernia, kantongnya sudah cukup besar. Klise tetapi selalu manjur, Tukang Obat mendiagnosis bahwa pasiennya terkena teluh. Drama babak kedua memasuki struktur konflik.

Spektakel semakin besar dan misterius. Apakah publik yang mayoritas mengenal pasien ini akan menduga peristiwa ini telah disiapkan? Saya mulai menimbang kehadiran metafisik di momen itu. Si pasien seperti di ruqyah, ia dibacakan sesuatu oleh Tukang Obat, ia mengerang. Tak lama, ia memuntahkan paku yang cukup banyak dan berlumur darah. Publik tercengang – antara takut dan percaya. Tak lama, obat (semacam bubuk jamu dan air mineral yang telah dibacakan doa/mantra) serta lembaran kertas/kitab laku terjual.

Keesokan hari di rumah saya, saya melihat ventilasi pintu rumahnya telah ditempel dengan lembaran kertas bertuliskan arab. Kertasnya berwarna kuning kecoklatan. Saudara saya telah terperdaya oleh pertunjukan besar yang dilakukan Tukang Obat (bersama hal metafisik). Lalu apakah mungkin menemukan ritus pengeramatan di keramaian pasar? Apakah kami – tiga pembabat bodoh akan menjadi Tukang Obat di pasar Tamsweg yang belangsung pada siang hari? Mungkin kami akan belajar dulu cara memuntahkan paku berlumur darah (baca: pewarna makanan).

Tukang obat atraksi bersama partisipan. Dokumentasi: Heri Purtanto.

Tukang Obat dikerubungi masyarakat di pasar tradisional Aceh. Dokumentasi: Saifullah Yusuf (2014).

Tukang Obat di Jawa Barat. Dokumentasi: Abey.

Tukang Obat atraksi menggorok lehernya. Dokumentasi: Jaya Wijaya 2017.

Tukang Obat menggunakan kostum tradisional di Medan. Dokumentasi: Erwin Zn 2009.

Pasar Jumat di Tamsweg, Salzburg Lungau. Dokumentasi: Studio Klampisan (2022)