Tukang Obat: Ritus Pengeramatan di Pasar

Penulis: Abi Muhammad Latif

Mungkin kah menemukan ritus pengeramatan di keramaian pasar? Bisa mungkin, bisa tidak. Di Jember, Banyuwangi, dan Jakarta era 2000 – 2010, kami masih menjumpai tukang jual obat (dan kitab) keliling dengan model menjual aksi spektakel mereka yang melibatkan sulap ataupun sihir. Struktur teks/kisah yang mereka lafalkan seringkali berhasil membuai publik dan membuat dagangannya laris.

Memang ada beberapa gaya jual obat yang mereka lakukan, baik yang menggunakan trik penceritaan, maupun yang melibatkan kekuatan metafisik. Tetapi yang paling kentara, dua-duanya memiliki gaya pengkisahan yang memikat dan mengikat, meletupkan harapan di antara atraksi tragedi/tragik-komedi, melibatkan hal metafisik sebagai medium pengkisahan ataupun modus kerja.

Yang saya lihat di awal tahun 2000an, tukang jual obat menciptakan pasar kaget di sebuah lapangan badminton terbuka, dekat dengan Pasar Deprok (baca: duduk), sebuah pasar tradisional di Cipinang Muara 3 Jakarta Timur. Jika pada kerja Tukang Obat seringkali mendekatkan penonton sedekat mungkin dengan dirinya, berbeda dengan yang ini. Waktu itu malam agak mendung, Tukang Obat menggelar lapaknya dengan terpal yang cukup besar. Penonton dibuat agak jauh darinya. Tak disangka, dia berhasil menguasai stage yang besar seorang diri dengan atraksi melawan roh yang menyerang dirinya, dia berguling-guling ke belakang lantas memuntahkan paku dan darah. Tak cepat kagum, saya berpikir peristiwa itu telah disiapkan.

Tetapi selang beberapa menit setelah Tukang Obat melakukan promosi, tetangga saya – yang secara persis saya kenal, mengajukan diri menjadi pasien. Ia bercerita menderita hernia, kantongnya sudah cukup besar. Klise tetapi selalu manjur, Tukang Obat mendiagnosis bahwa pasiennya terkena teluh. Drama babak kedua memasuki struktur konflik.

Spektakel semakin besar dan misterius. Apakah publik yang mayoritas mengenal pasien ini akan menduga peristiwa ini telah disiapkan? Saya mulai menimbang kehadiran metafisik di momen itu. Si pasien seperti di ruqyah, ia dibacakan sesuatu oleh Tukang Obat, ia mengerang. Tak lama, ia memuntahkan paku yang cukup banyak dan berlumur darah. Publik tercengang – antara takut dan percaya. Tak lama, obat (semacam bubuk jamu dan air mineral yang telah dibacakan doa/mantra) serta lembaran kertas/kitab laku terjual.

Keesokan hari di rumah saya, saya melihat ventilasi pintu rumahnya telah ditempel dengan lembaran kertas bertuliskan arab. Kertasnya berwarna kuning kecoklatan. Saudara saya telah terperdaya oleh pertunjukan besar yang dilakukan Tukang Obat (bersama hal metafisik). Lalu apakah mungkin menemukan ritus pengeramatan di keramaian pasar? Apakah kami – tiga pembabat bodoh akan menjadi Tukang Obat di pasar Tamsweg yang belangsung pada siang hari? Mungkin kami akan belajar dulu cara memuntahkan paku berlumur darah (baca: pewarna makanan).

Tukang obat atraksi bersama partisipan. Dokumentasi: Heri Purtanto.

Tukang Obat dikerubungi masyarakat di pasar tradisional Aceh. Dokumentasi: Saifullah Yusuf (2014).

Tukang Obat di Jawa Barat. Dokumentasi: Abey.

Tukang Obat atraksi menggorok lehernya. Dokumentasi: Jaya Wijaya 2017.

Tukang Obat menggunakan kostum tradisional di Medan. Dokumentasi: Erwin Zn 2009.

Pasar Jumat di Tamsweg, Salzburg Lungau. Dokumentasi: Studio Klampisan (2022)