Tulisan Observasi 360

Tulisan Observasi 360

Suddenly Kingdom

Suddenly Kingdom

Rusmini adalah salah satu contoh TKW yang berangkat sebelum era reformasi Indonesia. Meski hanya lulusan SMP, ia memiliki kegigihan belajar bahasa Inggris sehingga berhasil menjadi TKW di Brunei Darussalam sampai Inggris!
Rusmini bekerja sebagai pekerja domestik di rumah salah satu staff kerajaan Brunei Darussalam. Ia bekerja di rumah mewah bersama 4 pekerja domestik dari berbagai negara lainnya. Rumah dengan 2 ruang makan dan bias-bias kultur kerajaan, membuat Rusmini memahami table manner. Tak jarang ia mendapatkan social privilege dan kesempatan mengikuti pesta di istana kerajaan Brunei.
Berdasarkan wawancara yang dilakukan beberapa kali, kami melihat obsesi Rusmini yang besar terhadap negara-negara maju. Keinginan dia kembali ke luar negeri terutama Yunani, Jerman, dan Inggris kuat sekali. Hanya saja dia belum memutuskan untuk berangkat karena terhambat oleh izin suaminya.
Obsesi Rusmini muncul dalam narasi tentang lifestyle – fashion, pop culture, dan kesejahteraan kota. Untuk merespons hasratnya atas modernisasi, kami memilih dramaturgi gameshow dadakan dalam performance ini.

Penebusan Dosa: Menjinakkan Anjing liar

Penebusan Dosa: Menjinakkan Anjing Liar

Ponikem pernah menjadi pekerja domestik migran di Hongkong. Narasi performance akan berangkat dari kisah Ponikem saat bekerja di rumah majikan yang memiliki 4 anjing dan 9 kucing. Majikan Ponikem, sepasang suami istri memilih tidak memiliki anak, tetapi hewan peliharaan. Mereka merawat anjing dengan cara teratur dan biaya yang mahal.
Pada saat pertama kali bekerja, majikan kaget karena anjingnya langsung jinak dengan Ponikem. Hal ini dilatari oleh suami Ponikem yang memiliki kurang lebih 10 anjing liar di rumahnya. Saat suami pergi ke hutan, anjing-anjing seperti bodyguardnya. Sehingga Ponikem terbiasa melihat dan mengurus anjing – meskipun itu anjing liar dan tanpa cara merawat yang mahal.
Singkat cerita, anjing-anjing di rumah Ponikem dibunuh dan dijual oleh suaminya ke rumah makan anjing. Pada era itu (awal tahun 2000), 1 anjing dihargai 100 ribu rupiah oleh rumah makan.
Performance berangkat dari sudut pandang anak Ponikem yang ingin menebus dosa ayahnya karena telah membunuh dan menjual anjing liar di masa lalu. Dia dan ibunya berupaya menjinakkan anjing liar di area Klampisan – memberi makan dan minum, memandikan, hingga mengajak bermain berdasarkan pengetahuan yang dimiliki Ponikem dari pengalamannya merawat anjing majikan. Performance ini meminjam pendekatan reality show dengan motif menyelesaikan task penebusan dosa.

Dancing Kokom

Dancing Kokom

Siti Komariah (Kokom) adalah salah satu TKW muda Klampisan yang pernah bekerja di Taiwan. Dia termasuk pekerja migran perempuan Indonesia yang cukup berani melapor ke agensi dan meminta keluar jika medapatkan hal tidak sesuai (perlakuan dan pekerjaan) dari majikan. Bahkan, ia sampai pada tahap mengajukan hari libur tambahan, dan itu disetujui majikan karena kerja Kokom yang cakap.
Ia pernah mengurus seorang nenek yang gaul dan modis. Hubungan Kokom dengan nenek seperti sahabat tanpa urat malu. Mereka bisa saling bertukar pakaian untuk selfie, merias wajah, wisata kuliner, dan joget DJ Remix bersama.
Setiap pagi, Kokom harus mengantar nenek terapi ke rumah sakit. Namun beberapa kali usai terapi, Nenek menyuruh Kokom naik kursi roda dan nenek yang mendorongnya. Momen keakraban mereka terdokumentasikan di facebook Kokom.
Site-specific performance ini dibangun dengan memindahkan beberapa ingatan dan kenangan kemudian dipantulkan dengan kenyataan Kokom hari ini – yang telah bersuami dan memiliki anak serta tinggal di rumah milik bos meuble tempat suaminya bekerja.
Bagaimana tubuh mantan “diva” Taiwan dipertemukan dengan ruang workshop meuble?

Testimoni Arsip

Testimoni Arsip

Mak Mi, merupakan mertua Titik yang bekerja sebagai TKW di Singapura selama kurang lebih 10 tahun. Mak Mi datang ke Singapura dan langsung dipekerjakan mengurus Haziq, anak majikan berusia 2 bulan yang cacat fisik sejak lahir.
Fase awal bekerja adalah masa yang berat buat Mak Mi. Ia sering diperlakukan kasar oleh majikan perempuan. Makanan sehari-harinya adalah umpatan yang dilontarkan majikan, “stupid dangdang!”
Kemampuan dan kesabaran Mak Mi dalam mengasuh, dibuktikan dengan kesetiaannya merawat dan menemani serangkaian operasi bibir dan rahang Haziq. Mak Mi mengasuhnya sampai ia berusia 10 tahun. Merawat Haziq selama itu, membuat 3 kain jarik betul-betul rusak. Banyak momen terkenang yang diabadikan melalui foto, pakaian, dan ingatan.
Studio Klampisan mengemas performance ini dengan dramaturgi tur arsip, benda, dan ingatan. Tur diperlakukan sebagai jembatan: masa lalu dan hari ini; Haziq, suami Mak Mi, dan cucu Mak Mi; dalam narasi kesetiaan dan kesabaran Mak Mi atas seseorang yang dicintainya.

Kendurenan Bubur Ayam Akong

  • All Post
  • artikel
  • Dapur Imajinasi Mama
  • Karya terpilih
  • Ulupampang Menanam
  • Uncategorized
    •   Back
    • Video 360
    • Tulisan Observasi 360
  • All Post
  • artikel
  • Dapur Imajinasi Mama
  • Karya terpilih
  • Ulupampang Menanam
  • Uncategorized
    •   Back
    • Video 360
    • Tulisan Observasi 360
  • All Post
  • artikel
  • Dapur Imajinasi Mama
  • Karya terpilih
  • Ulupampang Menanam
  • Uncategorized
    •   Back
    • Video 360
    • Tulisan Observasi 360
  • All Post
  • artikel
  • Dapur Imajinasi Mama
  • Karya terpilih
  • Ulupampang Menanam
  • Uncategorized
    •   Back
    • Video 360
    • Tulisan Observasi 360
  • All Post
  • artikel
  • Dapur Imajinasi Mama
  • Karya terpilih
  • Ulupampang Menanam
  • Uncategorized
    •   Back
    • Video 360
    • Tulisan Observasi 360
  • All Post
  • artikel
  • Dapur Imajinasi Mama
  • Karya terpilih
  • Ulupampang Menanam
  • Uncategorized
    •   Back
    • Video 360
    • Tulisan Observasi 360
  • All Post
  • artikel
  • Dapur Imajinasi Mama
  • Karya terpilih
  • Ulupampang Menanam
  • Uncategorized
    •   Back
    • Video 360
    • Tulisan Observasi 360
  • All Post
  • artikel
  • Dapur Imajinasi Mama
  • Karya terpilih
  • Ulupampang Menanam
  • Uncategorized
    •   Back
    • Video 360
    • Tulisan Observasi 360

Video 360

Kendurenan Bubur Ayam Akong

Sumarnik, seorang single parent yang ditinggal suaminya ke Malaysia. Ia bersikeras menjadi TKW agar bisa membeli rumah dan menghidupi anak-anaknya.
Selama 8 tahun bekerja di Singapura, Sumarnik sempat merawat seorang kakek tua yang uzur dan demensia. Ia biasa memanggilnya Akong. Ada hubungan cinta-benci yang aneh antara Sumarnik dan Akong.
Akong seringkali memukulinya. Tetapi tak berapa lama, ia meminta maaf sambil membelai rambut Sumarnik. Akong tidak ingin Sumarnik meninggalkannya.
Sumarnik menganggap Akong seperti orang tuanya sendiri. Ia bercerita bahwa makanan favorit Akong adalah bubur ayam. Akong dan bubur ayam adalah kenangan atas hubungan cinta-benci yang terus melekat dalam ingatan Sumarnik setelah ia pulang dan membeli rumah di Klampisan.
Performance menggunakan dramaturgi kendurenan dengan serangkaian jukstaposisi; menu makanan kendurenan menjadi bubur ayam Akong, pranatacara membuka kendurenan dengan narasi tentang Sumarnik dan Akong, serta pembacaan doa dalam kendurenan menjadi pembacaan responsi publik Klampisan tentang narasi Sumarnik dan Akong.

Batas Tungku dan Badai​

Batas Tungku dan Badai

Titik adalah salah satu representasi perempuan Jawa yang hidup dalam kultur mengabdi pada agama dan suami. Saat berusia 19 tahun, ia pernah bekerja sebagai pekerja domestik migran di kota Al Qassim, Arab Saudi selama 2,5 tahun. Kemampuan linguistik dan kebiasaan mengaji Al-Qur’an membuat ia cepat menguasai bahasa Arab.
Ia pernah satu kali ditarik majikannya ke dalam kamar dan mendapatkan kejadian yang traumatis. Meskipun ia berhasil menolak dan menghindar, namun tetap membuat Titik trauma berat selama beberapa tahun. Ia mengurung diri, kerja tidak fokus, membayangkan hukuman rajam, sering menghindar dan tidak mau bersalaman dengan laki-laki. Yang membuat Titik semakin kalut adalah banyak TKW Indonesia pada saat itu yang pulang dengan keadaan hamil.
Instalasi besi, kebab, sandwich, dan daging kambing, adalah simbol kuasa yang kami hadirkan sebagai intervensi antara chaosnya kultur, agama, dan kekuasaan.
Catatan:
Sebelumnya, kami telah membuat naskah dengan memunculkan serangkaian metafora untuk meredam bahasa verbal dari peristiwa pelecehan dan kekerasan. Namun saat naskah bertemu dengan Titik yang bertindak sebagai performer, peristiwa menjadi tidak relevan antara tubuh Titik dan bahasa dalam naskah. Titik lebih nyaman bercerita secara langsung dengan bahasanya sendiri, tanpa naskah. Akhirnya setelah negosiasi dilakukan, kami mengubah modus pertunjukan menjadi kesaksian Titik sebagai jalan melepaskan trauma.

Rekonstruksi Paradoks (via Yordania – Taiwan)​

Rekonstruksi Paradoks (via Yordania - Taiwan)

Sunarti adalah salah satu eks-TKW klampisan yang mementingkan pendidikan anak. Menurut suaminya, biaya pendidikan yang mahal menjadi alasan utama mereka belum memiliki rumah hingga saat ini.
Pengalaman pertama Narti menjadi TKW di negara Yordania: pernah dilempari botol, dipukul, hingga ditelanjangi majikan perempuan karena dituduh mencuri cincin emas.
Negara berikutnya tempat Narti bekerja adalah Taiwan. Ia bekerja di kuil, mengurus seorang biksu tua perempuan. Dari Buddhisme, ia belajar banyak tentang toleransi dan menjadi seorang vegetarian.
Kisah Narti di dua negara tersebut memunculkan situasi paradoks. Kekerasan dan toleransi menjadi dua fenomena yang saling dipantulkan dalam performance rekonstruksi kejadian perkara.

Perempuan – perempuan Cokelat, Dapur Cokelat

“Cuando pueda cocinar ya se puede casar”

 “Jika kau bisa memasak, maka kau bisa menikah”

 Ibuku, María Eugenia Lizano

Banyak yang bisa dikatakan mengenai masak-memasak dan wanita dalam wilayah yang saat ini dikenal dengan istilah kolonial: “Amerika Latin’. Daerah tersebut dikenal oleh penduduk asli sebagai “Abya Yala” yang berarti “Tanah Subur”.

Namun, sebelum berbicara mengenai masak-memasak dan opresi, mari mulai dari permulaannya: warna kulit.

Sebelum para penjajah spanyol tiba di Abya Yala, setiap orang di benua itu memiliki “kulit sawo matang”. Para penjajah dari spanyol tersebut merupakan orang-orang pertama dengan kulit putih pada keseluruhan wilayah tersebut. Beberapa dekade setelah mereka menetap dan mempelajari budaya, bahasa, serta rute menuju emas, perak, air, dan makanan, mereka mulai menyerang dan menjajah keseluruhan benua.

Mereka menghancurkan tempat-tempat suci; memperbudak perempuan, laki-laki, anak-anak; memaksa pribumi membangun gereja dan memeluk agama Katolik. Mereka mencuri artefak-artefak suci, menculik orang-orang berkulit cokelat, dan menempatkan mereka di kebun binatang manusia. Mereka membawa pelbagai penyakit yang tidak pernah menjangkiti penduduk asli (dus, mereka tidak memiliki kekebalan terhadapnya), hingga mereka meninggal jauh lebih cepat daripada orang-orang yang meninggal karena pandemi COVID-19.

Daerah kolonisasi inggris yang saat ini dikenal sebagai Kanada dan Amerika Serikat (oleh penduduk asli dikenal sebagai “Pulau Penyu”) dan penjajahan spanyol di Abya Yala memiliki dampak yang destruktif bagi penduduk asli. Dalam waktu singkat, cara hidup mereka berubah selamanya. Perubahan tersebut disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain hilangnya hak atas tanah yang mereka tempati, penyakit, serta pemberlakuan hukum yang melanggar budaya, kedaulatan, dan sistem organisasi mereka.

Para lelaki berkulit putih berusaha mati-matian untuk “membersihkan” ras penduduk asli dan menempatkan diri mereka sebagai pusat kemasyarakatan dan standar kecantikan. Setelah kampanye-kampanye massal genosida dan pemerkosaan sistematis beribu-ribu perempuan penduduk asli berkulit cokelat, anak-anak mereka lahir, dan anak-anak ini mulai memiliki kulit yang semakin dan semakin cerah.

Periode asimilasi pada dasarnya merupakan proses “pemutihan” yang dialami oleh penduduk asli. Memaksa mereka menjadi semakin kehilangan keasliannya dan semakin Eropa. Tidak hanya dengan “menciptakan” anak-anak yang lebih terang kulitnya, tetapi juga dengan memaksa penduduk asli untuk meninggalkan budaya mereka atau didorong ke pinggiran negara kolonial-pendatang eurosentris.

Untuk mematahkan semangat mereka dan hubungan mereka dengan budaya mereka, para pendatang memaksa penduduk asli untuk memotong rambut panjang mereka, mengganti pakaian tradisional mereka dengan pakaian formal Eropa, menghentikan penggunaan tato serta perhiasan tubuh, dan meninggalkan semua penanda budaya yang mengidentifikasi mereka demi asimilasi ke dalam dunia kristen kulit putih.

Inilah alasan mengapa terdapat banyak orang berkulit putih di Pulau Penyu dan Abya Yala, karena penjajah ingin membuat eropa baru di tanah adat pribumi. Orang Eropa tidak memiliki tujuan lain, mereka ingin memusnahkan penduduk asli dan menyebarkan gen mereka dengan segala cara.

Mengapa tidak kita buat-buat ras baru untuk mengelabui penduduk asli agar percaya bahwa mereka bukan penduduk asli lagi karena orang Eropa mengatakan demikian? Dari sini, lahirlah kata “Mestizo”.

“Mestizo” atau “mestiza” berarti “darah campuran”. Ini adalah ras yang diciptakan oleh penjajah yang diperuntukkan bagi setiap orang penduduk asli campuran yang lahir setelah penjajahan di Abya Yala. Mereka begitu terfokus untuk menghapus kepribumian sehingga mereka menciptakan sistem kasta kolonial dengan 16 ras yang berbeda untuk menghapus ras asli. Melalui beberapa jebakan sosial, selama bertahun-tahun, Aymara, Huetar, Bribri, Kuna, Quechua, Cabecar, Telire dan setiap suku mulai berkurang jumlahnya. Orang-orang meninggalkan Nama Suku ini dan mulai menyebut diri mereka “darah campuran”: “Mestizo”, label pertama yang mereka ciptakan setelah menggabungkan orang Eropa dan pribumi.

Penduduk asli dipaksa untuk menyangkal identitas mereka sendiri karena di bawah kekaisaran Spanyol, “darah campuran” akan selalu memiliki lebih banyak hak dan suara dalam masyarakat daripada kelompok pribumi mana pun.

Hal ini berbeda dengan Indonesia. Jiwa saya iri dengan penduduk asli dari sini karena mereka lebih beruntung dalam melestarikan identitas suku mereka: Jawa, Bali, Batak, Sunda, Dayak, dan lainnya yang masih memiliki identitas, tradisi, bahasa, gastronomi, dan kosmologi asli mereka. Di Kosta Rika, tempat keluarga saya berasal, orang-orang Huetar hampir terhapus dari sejarah. Tiada agama yang terlestarikan. Tiada tekstil tradisional. Tiada makanan tradisional. Bahkan bahasa asli pun tidak terlestarikan..

Tapi tidak semuanya hilang, berkat ancestras (leluhur perempuan) kami yang lari dari komunitas-komunitas pribumi ke pegunungan dan lolos dari orang kulit putih. Saat ini masih ada orang dengan kulit sawo matang di setiap negara di Abya Yala dan Pulau Penyu.

Dengan lahirnya Negara, penduduk asli kehilangan haknya. Tanah itu diberi nama baru oleh penjajah, beserta seperangkat aturan sosial-budaya baru yang tidak diketahui sebelumnya. Perempuan sekarang ditakdirkan untuk berada di dapur. Tidak ada kesempatan untuk belajar, untuk memutuskan karir apa yang ingin mereka kejar, atau bahkan waktu untuk diri mereka sendiri.

“Los valores de la familia tradicional” (nilai-nilai keluarga tradisional) memaksakan seperangkat ide, perilaku, dan ekspektasi baru bagi perempuan setelah berpuluh-puluh tahun orang spanyol menguasai setiap aspek kehidupan masyarakat adat.

Perempuan diharapkan hanya untuk beranak. Mereka diharapkan subur. Jika mereka tidak bisa memiliki anak, mereka dianggap sebagai suatu kegagalan. Sudah begitu, jika anak-anak dimanjakan, mereka dianggap ibu yang buruk. Perempuan diharapkan memasak tiga kali sehari untuk keluarga dan membersihkan seluruh bagian rumah sendirian. Jika tidak, mereka dianggap jorok dan tidak bertanggung jawab. Dan tentu saja, seorang perempuan diharapkan melakukan hubungan seks setiap kali suaminya menginginkannya bahkan jika dia tidak berminat untuk itu, dan hal itu tidak akan pernah dianggap pemerkosaan.

Tidak mungkin membicarakan gender dan kelas sosial ekonomi tanpa membicarakan warna kulit. Mayoritas perempuan yang tidak tamat sekolah bekerja di sektor informal, berpenghasilan rendah, dan termasuk dalam kelas pekerja secara turun-temurun adalah perempuan berkulit cokelat—bukan perempuan kulit putih dari Kosta Rika. Hal tersebut masih berlangsung hingga kini.

Kolonisasi meletakkan pondasi dasar bagi sistem masyarakat yang memastikan keturunan kulit putih orang Eropa mempertahankan posisi mereka di puncak tangga. Sementara itu, perempuan berkulit coklat yang lahir di negara yang sama, hingga saat ini tidak memiliki status ekonomi yang sama, tidak memiliki kesempatan yang sama, dan menghadapi tantangan dan kekerasan rasial yang lebih besar setiap harinya.

Perempuan berkulit cokelatlah yang memasak untuk perempuan berkulit putih. Perempuan berkulit cokelatlah orang-orang yang tinggal di rumah dan bebersih ketika perempuan berkulit putih ke luar, perempuan berkulit cokelatlah orang-orang yang menghadapi diskriminasi berdasarkan warna kulit, pekerjaan, dan latar belakang mereka.

cukuplah eksklusioner untuk berpikir bahwa perempuanlah yang membersihkan rumah, membesarkan anak-anak, dan memasak sepanjang hari dan setiap hari tak memiliki cara untuk merasa berdaya dan membangun perlawanan dari dapur mereka.

“Ruang sosialisasi di dapur dapat digunakan sebagai alat untuk memperoleh dan memperkuat proses penyembuhan melalui ketahanan. Hal ini memungkinkan untuk mengenali dinamika inter dan intrapersonal yang mendasari terbangunnya persaudarian yang terjadi di dapur, sehingga berhasil menekankan kembali ruang dapur sebagai potensiator proses transformatif subjektivitas pada perempuan” (Almanza Salazar,D. Parra Peña, AM, 2016, hlm.l 3)

Berada di dapur dan menghabiskan waktu bersama selama berjam-jam di sana, memberi perempuan kesempatan untuk meneruskan pengetahuan dari generasi ke generasi, untuk mengembangkan strategi pengendalian, memperkuat ikatan dengan perempuan lain, dan menekankan kembali pengalaman masa lalu, kenyataan saat ini, dan impian-impian mereka.

Meskipun memasak dan berada di dapur bisa menjadi pekerjaan yang memberdayakan bagi sebagian perempuan, penting untuk dipahami dan disadari bahwa ada banyak machismo (sistem penindasan terhadap perempuan) yang mengabaikan perempuan dan pekerjaan mereka.

Masyarakat memberi perempuan peran “Penyelamat”. Seorang wanita penyelamat memahami bahwa semua orang dalam keluarga lebih penting dan didahulukan daripada dirinya sendiri.. Dia dipaksa bekerja sepanjang hari untuk melayani keluarga dan tidak mendapatkan imbalan finansial, melakukan pekerjaan fisik dan emosional yang terus-menerus, dan niscaya, mengalami masalah-masalah kesehatan. Perkataan Abya Yala yang terkenal: “Quitarse el bocado de la boca” (mencicipi dari mulutmu) menggambarkan hal ini dengan baik. Ini mengacu pada kebiasaan yang dimiliki perempuan di mana mereka memutuskan untuk makan makanan apa saja yang tersisakan setelah anak-anak dan suami mereka makan..

Siklus yang melecehkan dan eksploitatif ini mengingatkan para perempuan bahwa setiap kali mereka keluar untuk membeli sayur dan buah, mereka harus segera pulang untuk memasak bagi mereka yang sedang beristirahat, tanpa imbalan sepeserpun, sama sekali diabaikan kecuali saat di mana mereka tidak memenuhi ekspektasi suami dan anak-anak mereka. Di mana dinamika dan dimensi kekuasaan yang berbeda akan mengingatkannya pada inferioritas dirinya dan tanggung jawabnya sebagai pengasuh.

Tidak dapat disangkal bahwa penindasan memang dialami oleh perempuan di dapur, tetapi juga benar bahwa perempuan dari Jawa, Bali, Kalimantan, Sumatera, Sulawesi, Nugini, Abya Yala, dan Pulau Penyu memiliki kemungkinan untuk mengubah ruang ini menjadi kenyataan yang memberdayakan dengan menuntut suami mereka untuk belajar memasak, membagi tugas di dapur, dan memiliki penghasilan sendiri.

inggris/spanyol: Saya menolak penggunaan huruf kapital untuk menandai kebangsaan dari para penjajah.

Stephanie Chaves

Stephanie Chaves

Seorang seniman visual, penulis, dan ilustrator dari San Jose, Kosta Rika. Selama delapan tahun ke belakang, ia melakukan edukasi seksual di Kosta Rika dan saat ini melakukan riset di negara-negara terjajah serta menulis mengenai orang berkulit cokelat di Abya Yala. Karya-karyanya telah dipamerkan di Peru, Kosta Rika, Spanyol, Indonesia, Italia, El Salvador, Meksiko, dan Argentina. Ia berpartisipasi dalam beberapa residensi seniman di El Salvador dan Kosta Rika. Selama pandemi COVID19, ia mulai mengembangkan estetika visual kepribumiannya untuk menghormati leluhur sukunya dan berbicara tentang kolonialisme dan supremasi kulit putih di Amerika Latin. Saat ini, ia tinggal di Indonesia dan belajar-mempelajari ketegangan antara warna kulit dan klasisme.

Cerita dari Pekerja Migrant Indonesia di Taiwan

Cerita ini merupakan susunan sejauh ingatan tentang pengamatan saya ketika menjalani residensi Trans/Voice Project Indonesia-Taiwan selama 4 bulan, dengan metode penelitian etnografi dan fokus pada ekspresi seni Pekerja Migrant Indonesia (PMI) di Taiwan. 

Ingatan ini bermula dari cerita seorang kawan bernama Tony Sarwono, PMI asal Yogyakarta, seorang pekerja pabrik.  Berawal dari obrolan sederhana di Shelter SPA distrik Zhongli, Taiwan, dari layar hp nya, ia menunjukan lukisannya yang bergaya abstrak. “setengah sadar saya melukis” ucapnya. Ia mengakui moment “katarsis” yang acapkali dirasakan seniman ketika membuat karya. Serupa bisikan dari dalam yang membuatnya dengan enteng melukis setiap guratan garis tebal dengan perpaduan warna yang cenderung muram. Melihat karya dan cerita Tony, lantas membuat Deden Bulqini yang akrab disapa Bul, seniman asal Bandung langsung mengajak Tony berkolaborasi dalam pameran berupa karya video art dan instalasi berjuluk “Ruang: Antara dan Sementara” di Open Contemporary Art Center (OCAC), distrik Datong, Taipei  pada 15-16 Juni 2019 silam.  

Bul mengungkapkan, bahwa ia tertarik melihat shelter dalam relasinya antara ruang dan tubuh para pekerja migran. Sebagai ruang sementara, Bul melihat shelter sebagai rumah penampungan/ sementara yang berfungsi sebagai persinggahan para PMI yang bermasalah. Rasa penasaran Bul akan hubungan ruang dan tubuh tersebut ia uji coba dalam workshop seni rupa. Hasilnya, berupa empat lukisan tubuh figuratif. Pada tubuh-tubuh lukisan tersebut ditembakan video aktivitas mereka selama di shelter seperti: mengobrol, video call bersama keluarga/pasangan, memancing, hingga kursus bahasa mandarin. 

Begitu pun dengan Tony yang melukis teman-teman PMI penghuni shelter. Figur-figur yang kentara dengan ekspresi dan aktivitas hidup keseharian. 

“Kita disediakan makan, tempat tidur dan menghibur diri, yah kelihatannya enak tapi sebenarnya pikiran kita ruwet, seperti harapan yang belum jelas” ungkap Tony mewakili perasaan teman-temannya. 

Lebih lanjut, ia merasakan keterlibatannya di pameran ini seperti membangkitkan kembali “bisikan dari dalam” tersebut, setelah sekian lama tubuh dan jiwanya menjadi mesin pabrik. “Dengan pameran ini saya merasa jiwa seni saya kembali dan bisa diekspresikan” jelas Tony.

Karya Tony Sarwono, “Ruang: Antara dan Sementara” di Open Contemporary Art Center (OCAC), distrik Datong, Taipei. Dok: Selvi Agnesia

Mengapa PMI berkesenian?

Pada minggu pertama, ketika saya melakukan residensi di Taiwan, saya mengalami kegagapan saat melakukan pengamatan tentang komunitas dan ekspresi seni pekerja migrant. Bekal pengetahuan yang didapatkan dari buku-buku referensi yang saya baca selalu seputar aktivisme PMI dalam memperjuangkan hak pahlawan devisa, tuntutan keadilan buruh pada majikan, juga motivasi mereka menjadi PMI dengan titik berat pada alasan menghidupi dapur dan membayar hutang.  Sima Ting Kuan, seorang sahabat Taiwan yang bergelut di dunia pekerja migran sejak lama mengungkapkan bahwa impian PMI itu sederhana “mimpi mereka hanya untuk keluarga”. 

Lebih lanjut, masalah pekerja migran di Indonesia erat kaitannya dengan migrasi global. Sejumlah lembaga internasional menetapkan tiga faktor penentu utama yang mendorong migrasi tenaga kerja internasional, yaitu: daya “tarik”, berupa demografi yang berubah dan kebutuhan pasar tenaga kerja di negara-negara dengan pendapatan tinggi. Daya “dorong”, berupa perbedaan gaji dan tekanan kiris di negara berkembang dan miskin. Terakhir, jaringan antar negara berdasarkan keluarga, budaya dan sejarah. (Irianto, 2011:7). Migrasi adalah strategi bertahan hidup mengingat kebanyakan migrasi dilakukan dengan alasan ekonomi. (OSCE, IOM, dan ILO, 2006: 18). 

Ekonomi memang dianggap  menjadi kebutuhan dasar untuk daya bertahan hidup diri dan keluarganya, namun secara menyeluruh (holistik) sesungguhnya manusia menurut psikolog Abraham Maslow, dalam piramida kebutuhan manusia tidak hanya membutuhkan kebutuhan fisiologis dan rasa aman. Lebih dari itu, puncak piramida kebutuhan manusia menurut Maslow yakni “kebutuhan akan penghargaan (esteem needs)” dan kebutuhan akan aktualisasi diri (self-actualization needs). Atas landasan pemikiran inilah, saya ingin mengetahui apa yang membuat mereka merasa bahagia

dan mendapat kepuasan hidup? Oleh karena itu saya kira, seni di kalangan PMI Taiwan menjadi menarik untuk dikaji dan diteliti. Khususnya secara komunal dalam bentuk komunitas seni. 

Posisi para pekerja migran seringkali dianggap minoritas di negara tempat dia bekerja, namun di tahun 2019, terdapat 270.997 pekerja migran asal Indonesia di Taiwan. Jumlah pekerja migran Indonesia bisa disebut mayoritas dibanding dari negara Asia Tenggara lainnya. Selain itu, bila dibandingkan Arab Saudi, Malaysia, Singapura yang menjadi negara tujuan faforit para PMI, Taiwan sendiri, selain Hongkong, lebih terbuka pada aktivisme ekspresi seni PMI dan sastra migran. 

Pandangan saya semakin terbuka terhadap aktivitas seni PMI setelah mendapat undangan melihat Festival Seni Budaya HUT-RI 2019 dengan judul acara “Sensasi Kebebasan” pada 18 Agustus 2019 . Lebih menariknya, poster acara ini menggunakan latar gambar abstrak dari Tony Sarwono dengan  rentetan pertunjukan seni yang akan dipentaskan dari berbagai komunitas seni PMI dalam rangka perayaan hari kemerdekaan Indonesia ke-74.  

Acara ini dimulai sejak pagi berupa parade budaya teman-teman PMI, mereka berjalan dari halaman Taipei Main Station (TMS) menuju National Taiwan Museum. Di halaman Museum, sudah berdiri panggung di mana saya menyaksikan berbagai pertunjukan seni dari mulai tarian tradisional, musik, teater, pencak silat, singo barong Taiwan/reog, peragaan busana nusantara, pembacaan puisi dan sebagainya. 

Pada moment inilah, jaringan pergaulan saya dengan teman-teman komunitas seni mulai berkembang. Hampir setiap minggu, tidak hanya mendapatkan undangan untuk menonton seni pertunjukan di tempat lain, tetapi undangan karaoke, makan dan kumpul-kumpul di aula TMS, diskusi, hingga undangan dugem juga dikirim lewat whatsap atau line. Tubuh saya di Taiwan, tapi rasanya masih Indonesia. 

Pada acara Festival Seni Budaya Indonesia tersebut, saya semakin mengenal salah seorang PMI yang aktif bergeliat dalam bidang seni lebih dari 9 tahun. Dwi Surwani, akrab disapa Emak adalah pimpinan dari Sanggar Tresno Budoyo. Emak sebagai sutradara, bersama para aktornya mementaskan pertunjukan teater berjudul “Xiao Lei Kondang” adaptasi dari folklore Malin Kundang versi kehidupan PMI. Tidak semata-mata mengadaptasi cerita folklore popular Indonesia, namun emak menyaksikan sendiri di kampungnya tentang keluarga yang ditinggalkan anak, atau orang tua yang meninggalkan anaknya tetapi tidak pernah kembali ke tanah air. “Pesan dari cerita tersebut, jangan melupakan keluarga dan tanah air” tutur emak.

dan mendapat kepuasan hidup? Oleh karena itu saya kira, seni di kalangan PMI Taiwan menjadi menarik untuk dikaji dan diteliti. Khususnya secara komunal dalam bentuk komunitas seni. 

Posisi para pekerja migran seringkali dianggap minoritas di negara tempat dia bekerja, namun di tahun 2019, terdapat 270.997 pekerja migran asal Indonesia di Taiwan. Jumlah pekerja migran Indonesia bisa disebut mayoritas dibanding dari negara Asia Tenggara lainnya. Selain itu, bila dibandingkan Arab Saudi, Malaysia, Singapura yang menjadi negara tujuan faforit para PMI, Taiwan sendiri, selain Hongkong, lebih terbuka pada aktivisme ekspresi seni PMI dan sastra migran. 

Pandangan saya semakin terbuka terhadap aktivitas seni PMI setelah mendapat undangan melihat Festival Seni Budaya HUT-RI 2019 dengan judul acara “Sensasi Kebebasan” pada 18 Agustus 2019 . Lebih menariknya, poster acara ini menggunakan latar gambar abstrak dari Tony Sarwono dengan  rentetan pertunjukan seni yang akan dipentaskan dari berbagai komunitas seni PMI dalam rangka perayaan hari kemerdekaan Indonesia ke-74.  

Acara ini dimulai sejak pagi berupa parade budaya teman-teman PMI, mereka berjalan dari halaman Taipei Main Station (TMS) menuju National Taiwan Museum. Di halaman Museum, sudah berdiri panggung di mana saya menyaksikan berbagai pertunjukan seni dari mulai tarian tradisional, musik, teater, pencak silat, singo barong Taiwan/reog, peragaan busana nusantara, pembacaan puisi dan sebagainya. 

Pada moment inilah, jaringan pergaulan saya dengan teman-teman komunitas seni mulai berkembang. Hampir setiap minggu, tidak hanya mendapatkan undangan untuk menonton seni pertunjukan di tempat lain, tetapi undangan karaoke, makan dan kumpul-kumpul di aula TMS, diskusi, hingga undangan dugem juga dikirim lewat whatsap atau line. Tubuh saya di Taiwan, tapi rasanya masih Indonesia. 

Pada acara Festival Seni Budaya Indonesia tersebut, saya semakin mengenal salah seorang PMI yang aktif bergeliat dalam bidang seni lebih dari 9 tahun. Dwi Surwani, akrab disapa Emak adalah pimpinan dari Sanggar Tresno Budoyo. Emak sebagai sutradara, bersama para aktornya mementaskan pertunjukan teater berjudul “Xiao Lei Kondang” adaptasi dari folklore Malin Kundang versi kehidupan PMI. Tidak semata-mata mengadaptasi cerita folklore popular Indonesia, namun emak menyaksikan sendiri di kampungnya tentang keluarga yang ditinggalkan anak, atau orang tua yang meninggalkan anaknya tetapi tidak pernah kembali ke tanah air. “Pesan dari cerita tersebut, jangan melupakan keluarga dan tanah air” tutur emak.

Latihan Sanggar Tresno Budoyo untuk pementasan “Xiao Lei Kondang”, Juli 2019 Dok: Sima Ting Kuan Wu

Dalam obrolan saat makan bersama, ia mengungkapkan bahwa alasan utama mendirikan Tresno Budoyo yaitu “meluangkan jiwa seni”. Acapkali, pekerjaanya sebagai Asisten Rumah Tangga mewajibkannya bekerja 24 jam di rumah majikan. Ketika waktunya libur, emak datang ke TMS membawa koper besar, isinya kostum dan makanan. Untuk pertunjukan “Xiao Lei Kondang:, ia dan para aktor yang berbeda kota berlatih di taman. Sulitnya menentukan jadwal kumpul latihan, menjadi kendala banyak komunitas seni PMI.   

Serupa dengan sanggar Tresno Budoyo, komunitas seni reog “Singo Barong Taiwan” memiliki kendala serupa, selain masalah regenerasi. Satu bulan sebelum Singo Barong Taiwan pentas di Pingtung, pada akhir Juni 2019, saya berkesempatan mengunjungi tempat latihan mereka di Toko Indo Cen Cen daerah Zhongli, Taiwan. 

Pada saat itu para personil sedang berlatih, di lantai paling atas Toko Indo Cen Cen, sembari menunggu hujan reda, para personil terlihat duduk melingkar dan asik berbincang dalam bahasa Jawa. Sedangkan yang lain, Lorena dan Dinda, dua penari jatilan sedang asik berdandan dan bersiap memakai kostum. 

“Kami sudah lama menyewa tempat ini buat kumpul dan simpan kostum, tapi kalau untuk latihan biasanya di taman saat minggu ketiga di setiap bulannya” ungkap Heri, salah seorang pengurus Singo Barong Taiwan. 

Dua topeng kepala Singo Barong berhias bulu merak terlihat gagah menghiasi dinding ruangan tersebut. Bukan perkara mudah membawa kedua topeng ke Taiwan. Topeng pertama didatangkan pada tahun 2014 ketika tahun pertama Paguyuban Singo berdiri. Selanjutnya, pada tahun 2018 topeng kedua menyusul didatangkan.  Dibutuhkan biaya hingga 1 juta dolar Taiwan, atau sekitar Rp

500 juta untuk mendatangkan topeng  Singo Barong tersebut. Darimanakah biayanya? Heri dengan tegas mengungkapkan, biaya tersebut murni dari bantuan teman-teman Pekerja Migran Indonesia. 

Memasuki generasi ketiga dan tahun kelima berdirinya Singo Barong Taiwan. Paguyuban ini telah pentas keliling di beberapa kota seperti Hsinchu dan berkali-kali di Taipei. Kehadiran mereka selalu dinanti teman-teman PMI dan animo ketertarikan masyarakat Taiwan pada seni budaya Indonesia juga cukup besar. Namun, hingga saat ini, kendala yang dialami kelompok berada pada soal dana dan regenerasi pemain. “Kalau kita yang nonton banyak. Yang main susah”  

Atraksi Singo Barong Taiwan di Ruang Hall Gungguan Elementary School, Pingtung County, 21 Juli 2019 Dok: Sima Ting Kuan Wu

Obrolan saya dengan Tresno Budoyo dan Singo Barong Taiwan—bersama komunitas seni lain—mengungkapkan permasalahan utama yang dialami komunitas seni pekerja migran, yang bila dirangkum —dengan keterbatasan jumlah halaman di tulisan ini —di antaranya: masalah regenerasi anggota/pemain, keberlanjutan (sustainable) komunitas setelah ditinggal anggota yang habis kontrak kerja, sekaligus keberlanjutan pekerja seni setelah mereka pulang ke Indonesia.  Ruang dan waktu latihan yang sulit karena pekerjaan, penonton (audience) yang notabene masih diminati orang Indonesia. Manajemen dan support keuangan dan tenaga, terakhir adalah stereotype pekerja seni dengan label pekerja migran.

Setelah saya mengetahui berbagai permasalahan tersebut, saya kembali pada pertanyaan dasar: mengapa, mereka  —Komunitas seni PMI— dengan susah payah tetap berkesenian, mengapa seni menjadi  penting? Sebagian besar mereka menjawab lugas, bahwa: seni itu ekspresi, seni itu hiburan, seni itu identitas. 

Ingatan tentang pertunjukan-pertunjukan teater, tari, singo barong, hingga karaoke di warung Indonesia yang saya saksikan dan alami bersama mereka selama residensi ini sepertinya menegaskan itu semua. Seni itu memang penting bukan karena mereka sebagai PMI saja, tapi mereka adalah manusia yang memerlukan nilai aktualisasi, hiburan, katarsis dan identitas budaya.

Ikhtisar

Setelah pulang dari Taiwan, saya bersama teman-teman dari Trans/Voice dan Sunday Screen Bandung, mengunjungi Desa Cihonje, kecamatan Gumelar, Banyumas, Jawa Tengah. Desa Cihonje merupakan salah satu Desa Migran Produktif di mana sekitar 70% warganya pernah menjadi PMI. Dari cerita Yulia, salah satu mantan PMI di Hongkong dam Macau yang saat ini aktif di Rumah Pintar Cihonje. Dahulu, desa ini memiliki potensi cengkeh sebagai sumber daya alam hingga pada masa Orde Baru, cengkeh sebagai penghasilan utama warganya dikapitalisasi. Konon ceritanya oleh salah satu anak presiden di masa Orde Baru.

Alhasil, ketika sumber  daya alam ludes yang tersisa adalah sumber daya manusia yang merantau nasib ke luar negeri. Awalnya, orang tua mereka bekerja ke Arab Saudi dan Malaysia. Beberapa tahun terakhir, Taiwan dan Hongkong menjadi sasaran utama perantauan. 

Rumah-rumah tembok di Cihonje dengan warna-warna cerah, para warga yang sebagian besar dapat berbahasa mandarin dan arab. Juga pertemuan kami dengan belasan calon PMI berkemeja putih yang mengikuti pelatihan ke Taiwan. Segala ingatan peristiwa saat di Taiwan dan Cihonje menyadarkan saya bila kebutuhan ekpresi seni dan dapur yang mengepul, seperti dua sisi mata uang, tidak terpisahkan.  Semoga arsip ingatan saya di tulisan ini, tidak hanya sekedar cerita. Lebih dari itu, saya tidak bisa mewakili seutuhnya kisah pekerja migran karena PMI juga adalah seutuhnya manusia.  Yang ingin berkesenian, juga membahagiakan keluarga.

Selvie Agnesia

Selvie Agnesia

seorang penulis, dan pekerja seni asal Bandung yang pernah lama menetap di Jakarta. Lulusan Magister Antropologi, Universitas Indonesia. Pada tahun 2019 mengikuti Residensi Trans Voice/Project Indonesia-Taiwan untuk pengamatan komunitas seni dari Pekerja Migrant Indonesia. Hasil pengamatannya dipresentasikan di National Taiwan Museum dan Brillian Times (2019) dll. Ia juga pernah mengikuti residensi untuk Pegiat Budaya di Selandia Baru (2017). Manager Produksi TeaterStudio Indonesia di Festival Tokyo 2012 & 2013 dll. Beberapa tulisannya dimuat di Kompas, Media Indonesia, Jawa Pos dan berbagai media cetak dan online di Indonesia.