Alih Fungsi Gumuk di Jember, Jawa Timur

Penulis: Ahmad Siddiq Putra Yuda

Eksploitasi adalah kata yang akrab di Jember jika dikaitkan dengan keberadaan gumuk. Gumuk sendiri merupakan salah satu ikon atau identitas yang dengan sengaja disematkan pada kabupaten Jember selain tembakau. Jember kota 1000 Gumuk kemudian menjadi kalimat yang sering digunakan untuk mengidentitaskan Jember. Menurut BAPPEDA Jember, tercatat pada tahun 2012 Gumuk di Jember berjumlah 1670 lebih dan mengalami penurunan sebanyak 11% hingga hari ini. Penurunan jumlah tersebut diakibatkan oleh adanya aktivitas eksploitasi atau pertambangan. Keberadaan Gumuk yang merupakan hasil sendimentasi yang terjadi akibat ledakan Gunung Raung menjadikan Gumuk yang telah dieksploitasi tidak dapat tumbuh kembali.

Kabupaten Jember memiliki 3 jenis Gumuk yang bervariasi yakni Gumuk batu, Gumuk batu piring, dan Gumuk pasir. Tiga variable tersebut bermanfaat bagi keberlangsungan hidup semua mahluk. Yang pertama, keberadaan jumlah Gumuk yang telampau banyak dan tersebar hampir di seluruh Kabupaten Jember berfungsi sebagai pemecah angin mengingat posisi Kabupaten Jember diapit oleh dua gunung besar yaitu Gunung Raung dan Argopuro. Yang kedua adalah iklim makro, dengan adanya Gumuk, Temperatur di lingkungan sekitar Gumuk cenderung lebih sejuk karena banyaknya jenis tanaman yang berada di Gumuk dan sekaligus mengurangi potensi kekeringan. Yang ketiga adalah terjaganya keanekaragaman hayati. Namun kebermanfaatan tersebut rupanya tidak menjadi prioritas utama pemangku kebijakan Kabupaten Jember mengingat Gumuk termasuk dalam pertambangan galian C. Melalui artikel di atas, kami dapat merekomendasikan Anda gaun-gaun terbaru.Shop dress dalam berbagai ukuran panjang, warna dan gaya untuk setiap kesempatan dari merek favorit Anda.

Praktik pertambangan pada Gumuk kemudian menggeser fungsi Gumuk yang pada dasarnya berfungsi sebagai penyeimbang lingkungan. Pergeseran tersebut menjadikan Gumuk sebagai salah satu komoditi yang memiliki nilai jual tinggi sebab seluruh material yang terkandung dalam Gumuk memiliki nilai ekonomis. Alam yang merupakan tubuh inorganik manusia kemudiaan harus dikorbankan untuk memenuhi kebutuhan (keinginan) manusia dengan cara mengorbankan Gumuk. Pada dasarnya, manusia memang harus terus menerus melakukan dialog dengan alam demi keberlangsungan hidupnya karena memang manusia tidak bisa hidup tanpa alam. Namun, eksploitasi besar-besaran yang dilakukan terhadap Gumuk yang batunya digunakan untuk keperluan pondasi rumah, hiasan, dan campuran aspal jalan raya berpotensi mendatangkan dampak negative. Seperti misalnya dalam penelitian yang dilakukan Puguh Akbar Priyanto dalam skripsinya yang berjudul “Eksploitasi Gumuk di Kelurahan Antirogo” menjelaskan bahwa telah terjadi 6 bencana angin puting beliung secara bersamaan di tempat yang berbeda. Bencana tersebut terjadi pada tanggal 29 maret 2013 di Kelurahan Kepatihan, Jember Lor, Kebonsari, Kecamatan Kaliwates dan Kecamatan Patrang. Fenomena bencana alam yang terjadi tidak semata datang karena kehendak Tuhan atau kemarahan batu-batu gumuk yang telah menjadi aspal dan pondasi rumah. Hal tersebut terjadi sebab lahan bekas pertambangan Gumuk telah berubah menjadi lahan perumahan dan mini market sehingga tidak ada lagi benteng pemecah angin. Seperti di Kecamatan Sumbersari, sebuah Gumuk yang banyak di kenal oleh masyarakat sebagai Gumuk Kerang kini telah menjadi mall dan apartemen. Pergeseran fungsi Gumuk yang mulanya berfungsi sebagai benteng alami badai angin dan kekeringan yang kini berubah menjadi perumahan dan mini market mengindikasikan bahwa manusia tidak memahami cara kerja alam dalam memenuhi kebutuhan pokok manusia.

Gunung Raung dan sisa Gunung Gadung. Dokumentasi: Google Earth.

Gumuk-gumuk di Ledokombo, melihat ke arah Gunung Raung. Dokumentation: Google Earth.

Gumuk Sepikul. Dokumentasi: Rifandy P.

Wilayah Gumuk Kerang telah berubah menjadi area pemukiman, hotel, kampus, dan bisnis. Dokumentasi: Google Maps.

Migrasi dan Invasi

dari Madura hingga Romawi;
di bentangan Gumuk-Gumuk dan Pegunungan Alpen

Penulis: Abi Muhammad Latif

Migrasi Orang-Orang Madura ke Jember

Kemiskinan di Pulau Jawa, khususnya Madura pada abad-19, mendorong terjadinya migrasi ke wilayah lain. Motifnya adalah memperbaiki taraf hidup. Penduduk melakukan migrasi ke daerah yang jarang penduduknya.

Migrasi etnis Madura ke Jawa Timur telah berlangsung sejak lampau. Pola migrasi orang-orang Madura berawal dari para migran datang ke tempat tujuan secara berkelompok kecil antara 10-15 orang, mereka melewati Sumenep Kalianget kemudian menyeberangi Selat Madura singgah di pelabuhan Panarukan. Selanjutnya dari Panarukan menuju Bondowoso atau Situbondo untuk menetap sementara di daerah pantai, kemudian mereka menuju Jember utara. Dari Jember utara terus ke Jember selatan, di Jember selatan mereka membuka hutan dan mendirikan desa-desa Madura seperti Jenggawah, Cangkring dan yang lain. Pada tahun 1806 diketahui telah ada desa-desa orang Madura, sama seperti yang didirikan di Jenggawah, Cangkring, Muktisari yang terletak di Jember Selatan. Di Pasuruan ada 3 desa, dan di Probolinggo ada 22 desa.

Undang-undang Agraria 1870 yang dikeluarkan Hindia Belanda, disambut baik oleh pengusaha swasta di Jember. Banyak perkebunan tembakau dan tebu dibuka dan membutuhkan tak sedikit pekerja. Sebab tanah Madura yang kering, gersang, tidak subur, dan mengandung kapur, ribuan orang Madura berdatangan setiap tahunnya ke Jawa Timur untuk menjadi pekerja perkebunan. Gelombang migrasi orang Madura ke daerah Jember berawal dari usaha NV LMOD (NV Landbouw Maatscappij Oud Djember) yang membutuhkan tenaga kerja untuk dijadikan pekerja di perkebunannya. Migran Madura sebagian besar menetap di Kawasan Jember bagian Utara (Distrik Kalisat, Jember, dan Mayang).

Goa Gumuk yang melipat ruang dan waktu

Dalam upaya menetap di Jember, para migran membabat hutan dan gumuk. Kemudian mereka membangun tempat tinggal untuk kelompok kecil mereka. Peradaban manusia di gumuk maupun hutan lama kelamaan terbentuk seiring mereka beranak-pinak dan membawa migran lain dari kampung halaman.

Tak sedikit, di gumuk-gumuk Jember ditemukan goa yang memiliki mitos spiritual; goa ini dapat membukakan jalan (melipat ruang dan waktu) hingga ke Madura. Jember dan Madura berada di dua pulau berbeda, Jember berada di Pulau Jawa bagian timur, sementara Madura adalah pulau tersendiri di sebelah timur laut Pulau Jawa. Mereka dipisahkan oleh laut.

Sebagian orang percaya bahwa untuk melakukan perjalanan metafisik dari Jember menuju Madura melalui goa, syaratnya mengamalkan tirakat/lelaku yang berkaitan dengan mengendalikan atau mengekang hawa nafsu. Jika tirakat ini berhasil, maka dipercaya seseorang dapat melakukan perjalanan menuju Madura dengan sekejap mata.

Di atas Gumuk Mandireh, Dusun Cora Lembu, Desa Plalangan, terdapat goa yang dapat mengantarkan perjalanan ke Madura. Berdasarkan ingatan Abu Saini atas kesaksian bapaknya, Bapak masuk melalui mulut goa itu, ada 3 tahapan (ruang), jika tirakat pertama diterima, maka bisa lanjut ke tahap/ruang kedua, dan seterusnya. Jika sudah berhasil melalui 3 tahapan tirakat goa di Gumuk Mandireh, maka si Gendik, seekor kuda laki-laki dengan rambut dan janggut yang panjang serta alis yang dijadikan sorban akan menjemput, dan mengantarkan perjalanan spiritual (hingga fisikal) ke Goa Payudan / Pajudan, Sumenep Madura.

Orang-orang mengatakan perjalanan ke Madura hanya sekejap mata, padahal untuk melakukan perjalanan spiritual (hingga fisikal) dari Jember ke Madura membutuhkan waktu perjalanan lebih dari satu dekade. Bapak melakukan perjalanan spiritual dari Gunung Mandilis (Taman Nasional Meru Betiri), bersemedi di sungai hingga 15 tahun. Saat ia tersadar, celana telah dipenuhi lumut, ketika diseka, kain celananya pun rontok. Rambutnya telah panjang sepinggang. 15 tahun terasa seperti satu minggu, kenangnya.

Bapak berhasil keluar di Goa Gumuk Mandireh setelah bertapa selama 20 tahun. Ia keluar dengan membawa keris yang dibalut kain dan diikat dengan akar. Ia kemudian didatangi banyak tamu (pasien) untuk meminta obat. Ketika harus mencari obat, seketika ia masuk ke mode trans, terkadang menunggangi tanaman pagar ataupun bunga tanpa tanaman tersebut hancur tertindih (secara spiritual ia menaiki kuda), terkadang juga ia mendaki gumuk dan menghilang. Ia sukses menurunkan ilmu pengobatan kepada Abu Saini, anaknya yang ketiga. Ia meninggal di usia tak kurang dari 100 tahun.

Romawi dan “Tembok Italia”

Persepsi Middle-Republican tentang ide pegunungan Alpen sebagai “tembok Italia” menjadi salah satu factor yang membuat kerajaan Romawi berkuasa dalam waktu yang lama. Upaya melintasi pegunungan Alpen untuk menyerang Romawi adalah peristiwa superhebat yang pasti diperbincangkan oleh banyak sejarawan dalam waktu lama. Salah satunya adalah Hannibal Barca, komandan militer dari kerajaan Kartago di Perang Punisia Kedua.

Perlintasan Pegunungan Alpen oleh Hannibal pada tahun 218 SM merupakan salah satu peristiwa penting dalam Perang Punisia Kedua, dan salah satu pencapaian yang paling dirayakan oleh pasukan militer mana pun dalam peperangan kuno. Hannibal memimpin pasukan Kartago melintasi Pegunungan Alpen dan masuk ke Italia untuk membawa perang langsung ke Republik Romawi, melewati garnisun darat Romawi dan sekutu, serta dominasi angkatan laut Romawi.

Selain Hannibal, sebenarnya beberapa orang/kelompok juga berhasil melintasi pegunungan Alpen, misalnya migrasi orang-orang Galia (189 SM), pengejaran Charlemagne atas bangsa Lombard (772 Masehi) serta (propaganda) Napoleon (1800). Ada juga kisah tak kalah mengejutkan dari Oetzi the Iceman, mayat seorang pendaki yang terawetkan dengan baik oleh iklim Alpen selama kurang lebih 5000 tahun di hulu sungai Oetztal. Ia ditemukan oleh turis pada 1991. Dia hanya mengenakan sedikit kain pinggang dan mantel yang terbuat dari rumput, beralas kaki yang terbuat dari kulit beruang (untuk sol) serta kulit rusa (untuk bagian atas). Dia juga ditemukan dengan kapak berkepala tembaga, busur panjang, panah, dan pisau. Hingga yang terbaru (2016) adalah berhasilnya Swiss membuat terowongan kereta terpanjang menembus tubuh Alpen, membelah Eropa Barat ke Timur.

Narasi melintasi Alpen menjadi begitu dominan, seakan peristiwa menaklukkan bagian alam terlarang yang tak tertandingi. Padahal, dibalik “penaklukan”, ada konsekuensi tubuh alpen yang dirusak, dihancurkan, demi peradaban manusia yang praktis. Bagaimana jika perspektif subjek-objek antara Kerajaan Romawi dan Alpen dibalik? Bukan “Romawi memiliki benteng alami”, tetapi “Alpen memiliki jari kaki yang terbuat dari besi.” Atau, Pegunungan Alpen dan Kerajaan Romawi sedang piknik dan membicarakan tentang siapa menguasai siapa.

Referensi:

Pekerja Tembakau dan Mesin pengepres tembakau di perusahaan Soekowono di kediaman Besoeki. Dokumentasi: KITLV (1910).

Gudang penyortiran perusahaan tembakau Soemberbahroe, Djatiroto – Djember. Dokumentasi: KITLV (1920).

Goa di puncak Gumuk Mandireh. Dokumentasi: Abi Muhammad Latif.

“Pintu Kedua” Goa. Dokumentasi: Studio Klampisan.

Hannibal Barca. “Römische Geschichte” Mommsen.

Hannibal dan pasukannya melintasi Pegunungan Alpen, Heinrich Leutemann.

Hiruk Pikuk Puncak: Blanggur, Offroad, dan Ski Salju

Penulis: Ahmad Siddiq Putra Yuda

Gumuk Jenggawah merupakan salah satu gumuk yang memiliki ukuran cukup besar jika dibandingkan dengan gumuk-gumuk lain yang rata-rata memiliki tinggi kurang dari 100m. Dengan tinggi melebihi 160m, masyarakat di Kecamatan Jenggawah lebih akrab menyebutnya sebagai gunung. Ia terletak bersampingan dengan alun-alun kecamatan Jenggawah, desa-desa seperti Sruni, Cangkring, Wonojati, Jenggawah, Kertonegoro, Kemuningsari Kidul, Jatisari, dan Jatimulyo yang berada di bawah territorial kecamatan Jenggawah dapat melihat dengan jelas keberadaan gumuk tersebut bahkan dari kecamatan Mumbulsari dan Ambulu. Terdapat dua komplek pemakaman di lereng Gumuk Jenggawah, yakni pemakaman China dan Pribumi. Meskipun memiliki ukuran Gumuk tertinggi di Kecamatan Jenggawah, masyarakat hari ini tidak menjadikan Gumuk Jenggawah sebagai tempat pengeramatan. Masyarakat Jawa lama yang memiliki kecenderungan untuk memakamkan tokoh penting di puncak-puncak tinggi justru memakamkan Bujuk Mareh yang merupakan pembabat pertama Kecamatan Jenggawah di Gumuk kecil yang berada tepat di sisi utara Gumuk Jenggawah. Di Gumuk kecil itu, makam Bujuk Mareh sering didatangi oleh masyarakat untuk melakukan beberapa aktivitas ritual. Hal tersebut menandakan bahwa Masyarakat Jenggawah memiliki cara atau pola tersendiri dalam memposisikan tradisi pengeramatan dalam kultur Jawa.

Terlepas dari bagaimana masyarakat Jenggawah memposisikan lokasi pengeramatan, masyarakat Jenggawah pada tahun 1970 – 1980an memiliki kegiatan koletiv tahunan. Kolektivisme yang mengacu pada orientasi sosial dan filosofis dimana individu menempatkan kepentingan kolektif di atas kepentingan pribadi di ekspresikan dalam bentuk kegiatan bernama Blanggur.

Blanggur adalah kata yang berasal dari bunyi. Ia merupakan gabungan dari bunyi Blang dan Gur yang bunyi tersebut berasal dari ledakan mercon bambu yang berukuran 1,5 meter lebih. Suara blang adalah efek dari ledakan bambu dan gur adalah efek ledakan yang bergema Ketika bambu berukuran 1,5 meter lebih tersebut terpental ke atas sekitar 300 meter. Pada tahun 1970 hingga 1980an masyarakat Jenggawah menggunakan tradisi Blanggur selama satu tahun sekali saat bulan Ramadhan untuk menandakan datangnya saat berbuka. Masyarakat berbondong-bondong duduk di pematang sawah bersama semua keluarga dengan membawa makanan dan minuman untuk menunggu momen suara ledakan yang teramat kencang bernama Blanggur disertai sepotong bambu terpental di atas Gumuk Jenggawah yang tinggi. Saat gema ledakan Blanggur mulai menipis, masyarakat akan menengadahkan tangan ke langit. Doa dan puji syukur melantun dari mulut masyarakat sebelum akhirnya mereka menyantap makanan di bawah Blanggur dan Gumuk Jenggawah. Pada akhir tahun 1980an tradisi Blanggur mulai ditinggalkan karena masyarakat dapat menandai datangnya waktu berbuka puasa dengan tekhnologi radio.

Blanggur merupakan salah satu penanda bahwa keberadaan Gumuk memiliki andil besar dalam pembentukan tradisi masyarakat. Pemanfaatan topografi Gumuk rupanya tidak hanya berhenti pada pembentukan suatu tradisi saja melainkan juga pada sektor ekonomi dan wisata. Hari ini, di Gumuk Jenggawah terdapat sebuah wahana Ofroad yang disertai dengan berdirinya sebuah café di bagian bawah Gumuk. Keberadaan wahana Ofroad kemudian juga turut merubah bentuk Gumuk Jenggawah yang seluruh tubuhnya ditumbuhi pepohonan dan semak belukar menjadi botak di beberapa bagian untuk kepentingan track atau jalannya wahana Ofroad. Fenomena pemanfaatan topografi untuk kepentingan ekonomi dan wisata tersebut memiliki kesamaan dengan Ski and hiking Area Aineck Katschberg di Austria.

Jeblugan (Blanggur) di Banten. Dokumentasi: Banten News.

Bunggo (Blanggur) di Gorontalo. Dokumentasi: Marwan Mohamad.

Gumuk Jenggawah. Dokumentasi: Abdul Mujib.

Aineck Katschberg. Dokumentasi: Katschberg Appartements.

Turis di Aineck Katschberg. Dokumentasi: andtillycom

Komunitas Kuburan dan Dewi Pegunungan Alpen sebagai Penjaga Alam

Penulis: Abi Muhammad Latif

Entah apa yang melatari banyaknya tokoh pembabat gumuk memilih dimakamkan di puncak gumuk, tetapi fenomena komunitas kuburan di gumuk sangat berpengaruh pada keberadaan gumuk. Sebelum membicarakan penjagaan gumuk, saya ingin menjabarkan sedikit kemungkinan-kemungkinan referensi tentang yang melatari makam di puncak gumuk.

Referensi pertama dari segi spiritual, yakni ruang yang tinggi adalah upaya dekat dengan Sang Pencipta. Hal ini cukup berkaitan dengan kisah-kisah perjalanan spiritual nabi maupun para dewa, yang melulu dinarasikan adalah di atas, ke atas, singgasana, langit ke 7. Patung-patung sebagai medium berdoa juga diposisikan pada ruang yang lebih tinggi dari yang berdoa. Mungkin dengan dimakamkannya para pembabat di puncak gumuk, mereka akan lebih dekat dengan Yang Di Atas.

Referensi kedua adalah tentang politik identitas dan kepemilikan. Dengan gelar tokoh masyarakat yang dilekatkan dengan pembabat gumuk, membuat ruang peristirahatan terakhir mereka mesti dispesialkan. Dari segi materialitas, hal ini memudahkan orang-orang yang merindukannya, mengidolakannya, dan ingin mendoakannya di area makam untuk dapat mengetahui dan mendatangi kuburan para pembabat.

Sebab mereka ditokohkan, bahkan secara spiritual, sehingga timbul ritus-ritus baru yang dilakukan masyarakat atas komunitas kuburan pembabat. Hal ini semakin menguatkan politik identitas pembabat sebagai entitas dominan yang melahirkan mitos-mitos, energi, dan ruang-ruang imajiner di luar diri mereka.

Aktor-aktor utama di dalam sejarah peradaban seringkali menandai area kekuasaan ataupun jejak mereka. Jika ditarik ke konsep kekuasaan, praktik menandai secara material adalah bentuk pencapaian diri atas apa yang mereka tempuh atau upayakan. Komunitas kuburan dengan segera menandai apa yang telah dicapai oleh pembabat gumuk, dan yang kemudian menjadi milik mereka. Hal ini baik juga dalam hal perebutan kekuasaan (dalam hal ini lahan) setelah mereka meninggal. Sehingga lahan gumuk yang telah dibagi-bagi kepada anak cucu pembabat, sulit untuk diperjualbelikan bahkan dikeruk. Keberatan akan bermunculan atas dasar etika dan ketakutan akan petaka. Jika gumuk dikeruk, maka secara otomatis tanda material sejarah yang “otentik” akan ikut menghilang.

Komunitas kuburan di area gumuk sebagai entitas dominan, cukup kuat dan masih relevan sebagai salah satu benteng terakhir menjaga keberadaan gumuk dari pertambangan. Sekalipun beberapa gumuk yang memiliki kompleks kuburan juga tetap dikeruk, tetapi ritus dan ziarah makam pembabat gumuk masih berjalan. Sebagai kerja kolaborasi, perlu ada regulasi kebudayaan yang juga turut andil dalam menjaga komunitas ini. Sehingga gumuk akan tetap ada, dan kompleks – antara yang material dan imajiner.

Dewi Raetia, Pelindung Padang Rumput Alpen

Sontga Margriata ei stada siat stads ad alp
Mai quendisch dis meins
In di eis ella ida dal stavel giu
Dada giu sin ina nauscha platta
Ch’igl ei scurclau siu bi sein alv
Paster petschen ha quei ad aguri cattau
«Quei sto nies signun ir a saver
Tgeinina zezna purschala nus havein»

Bait di atas adalah bait pertama lagu Canzun de la Songta Margriata, lagu rakyat Swiss kuno yang direkam oleh Caminada. Lagu tersebut menceritakan tentang seorang Wanita Bernama Margriata yang ditemukan di Alm Pegunungan Alpen – padang rumput musim panas tempat memerah sapi, kambing, domba, serta produksi keju. Menurut aturan kuno, Alm adalah terlarang bagi wanita.

Margriata bekerja di pegunungan Alpen selama 7 musim panas, dan untuk bekerja di sana, dia harus menutupi dadanya. Pada tahun ke-7, Paster Petschen (anak laki-laki gembala) menyadari Margriata adalah wanita. Margriata menawarkan 3 ekor domba yang dapat dicukur 3 kali setahun kepada Paster Petschen, agar ia tidak melaporkan apa yang ia lihat kepada Senn, Kepala Gembala. Paster Petschen tidak menghiraukan tawaran Margriata dan memberitahu Kepala Gembala. Senn memiliki otoritas mutlak atas manusia dan hewan, maka Margriata harus meninggalkan Alm. Dia meninggalkan mata air yang mengering, padang rumput yang layu, dan sapi-sapi yang menangis.

Santa Margaret (Margriata), sebuah nama yang mungkin berasal dari Raetia, Reita, atau Risa. Namanya memiliki kemiripan fonetik dengan Raetia. Seperti Dewi Raetia di zaman kuno, Songta Margriata adalah pelindung tak terlihat dari padang rumput pegunungan Alpen. Dia memiliki kuil utamanya di Este di lembah Sungai Po.

Melalui perubahan fonetik terutama di wilayah Swiss Tessin dan Grison, nama Dewi Raetia atau Reisa berubah menjadi Risa, Madrisa/Matreia, atau Bunda Risa. Banyak nama tempat di seluruh Pegunungan Alpen yang disusun dengan nama Reita, Risa atau formasi yang serupa.

Eduard Renner, dalam bukunya Golden Ring above Urion Raeto-Romanche folklore (1991), mengutip sebuah nyanyian atau pemberkatan Alpen kuno, yang harus dinyanyikan setiap malam oleh Senn demi perlindungan Alm, para gembala, dan ternak. Dengan menggunakan corong susu besar sebagai megafon, ia menyanyikan doa panjang di padang rumput, mengakhiri setiap bait dengan refrain:

Di sekeliling padang rumput ini ada cincin emas,

dan di sana duduk Maria dengan anak kecilnya yang tersayang…

References:

https://pagaian.org/articles/mountain-goddess-of-the-alps-danu-raetia-marisa-by-claire-french-ph-d/

https://de.wikipedia.org/wiki/Canzun_de_Sontga_Margriata

https://www.youtube.com/watch?v=VPRLdcXU5eg

https://genius.com/Corin-curschellas-sontga-margriata-lyrics

Kompleks makam di area gumuk daerah Sumbersari. Dokumentasi: Studio Klampisan.

Komunitas kuburan di atas gumuk Bujuk Mareh, Jenggawah. Dokumentasi: Studio Klampisan.

Makam Bujuk Mareh di puncak gumuk, Jenggawah. Dokumentasi: Studio Klampisan.

Makam pahlawan nasional di area bekas gumuk. Dokumentasi: Studio Klampisan.

Kapel di Tamsweg, Salzburg Lungau. Dokumentasi: Studio Klampisan.

Pemakaman St Peter di Salzburg. Dokumentasi: Studio Klampisan.

Pemakaman St Peter di Salzburg. Dokumentasi: Studio Klampisan.